Minggu, 28 September 2014

Jelajahi pulau pagang dan pamutusan

Paket 1 (Satu) hari (Pagi – Sore) Rp 250.000,-/Orang. Minimum 6 Orang.

Harga sudah termasuk :
Transportasi Boat PP, Makan Siang, Snack (Kopi, Teh, Buah, Makanan Ringan), Peralatan Snorkling
- Berangkat dari Sungai Pisang dengan Boat.
- Snorkling di Pulau Pasumpahan sekitar 15 menit.
- Pulau Pagang, mendapatkan Snack, Makan Siang (Masakan Padang) 1x, acara bebas (Berenang/Snorkling/Keliling Pulau/ Mancing di Dermaga)
- Sebelum pulang, Tracking ke Puncak Pulau Pemutusan
- Perjalanan Pulang (Sunset) sekitar 18:15


Paket Menginap di Bungalow Pulau Pagang, Rp 450.000,-/Orang/Malam. Minimum 6 Orang.

Harga sudah termasuk :
Tranportasi Boat PP dengan, Makan Pagi 1x, Makan Siang 2x, Makan Malam 1x, Snack (Kopi, Teh, Buah, Makanan Ringan), Peralatan Snorkling
- Hari pertama, berangkat pagi dari Bungus dengan Boat.
- Snorkling di Pulau Pasumpahan sekitar 15 menit.
- Pulau Pagang, acara bebas (Berenang/ Snorkling/Keliling Pulau/Mancing di Dermaga)
- Tracking ke Puncak Pulau Pemutusan
- Menginap di Bungalow Pulau Pagang, Per Kamar 2 orang
- Boat standby di Pulau untuk bermai n ke Pulau lain.
- Hari Kedua, pulang sore.


Paket Menginap di Tenda Rp 370.000,-/Orang/Malam. Minimum 6 Orang.

Harga sudah termasuk :
Tranportasi Boat PP dengan, Makan Pagi 1x, Makan Siang 2x, Makan Malam 1x, Snack (Kopi, Teh, Buah, Makanan Ringan), Peralatan Snorkling
- Hari pertama Sungai Pisang dengan Boat.
- Snorkling di Pulau Pasumpahan sekitar 15 menit.
- Pulau Pagang, mendapatkan Snack, Makan Siang , acara bebas (Berenang/Snorkling/Keliling Pulau/Mancing di Dermaga)
- Tracking ke Puncak Pulau Pemutusan
- Menginap di Tenda
- Boat standby di Pulau untuk bermain ke Pulau lain.
- Hari Kedua, pulang sore.

Yang minat :
telp / sms : 085274398989 / 083137066936
watsap : 085274398989
bbm : 7FA7D829

Mari explore Indonesia bersama kami RF Adventure :)



Berada di puncak pamutusan menyaksikan sunset

bersnokling ria jilid 1 :D

Treking menuju puncak :)

 
Pemandangan dari puncak pulau Pasumpahan

bersnokling ria jilid 2 :P

Semua foto murni hasil jepretan RF Production
Editan hnya sebatas sharp & crop
Semoga berkenan ^_^
Selengkapnya...

Rabu, 02 November 2011

Teratai

By  : Windi Hendriko

Kakek kami pernah bercerita bahwa konon setiap saat, Kanjeng Nabi Ibrahim yang suci selalu memilih tindakan yang mulia (shreya) daripada tindakan yang hanya menyenangkan diri pribadi saja (preya). Tindakan mengasihi putra yang telah lama didambakan kelahirannya  juga merupakan tindakan yang mulia. Akan tetapi tindakan tersebut menyebabkan adanya keterikatan Kanjeng Nabi terhadap sang putra, terhadap dunia. Dengan petunjuk Yang Maha Kuasa lewat mimpi untuk menyembelih (“keterikatan” pada) sang putra, Kanjeng Nabi dapat melepaskan keterikatan terhadap sang putra dengan memilih Yang Haqq daripada kehidupan putra tersayangnya. Selanjutnya, kakek berpesan, nasehat leluhur tidak sekedar dipahami pikiran agar mahir dalam diskusi. Pemahaman harus dihayati, dirasakan dengan penuh perasaan dan kemudian dipraktekkan sehari-hari.
Bunga teratai
Bunga teratai tumbuh pada kolam di daerah subur seperti di Mesir Kuno, di Asia termasuk juga di Indonesia. Itulah sebabnya simbol ketidakterikatan bunga teratai hanya dikenal pada peradaban yang berkembang pada daerah yang subur dengan air yang berlimpah. Legenda dari Mesir Kuno menyebutkan bahwa Ra, Dewa Matahari lahir dari kelopak bunga teratai yang tumbuh dari air kekacauan. Dalam Buddhis bunga teratai juga bermakna kemurnian pikiran, kemurnian ucapan dan kemurnian tindakan yang tumbuh dari air lumpur keinginan dan keterikatan. Bhagavad Gita juga mengambil contoh daun teratai sebagai simbol ketidakterikatan.
Tanaman teratai banyak dimanfaatkan untuk menghias kolam. Bunganya yang indah dengan kelopak yang  lebar membentuk lingkaran memancarkan aura kedamaian dan keindahan. Meskipun hidup di air, daun dan kelopak bunga teratai tidak pernah basah dan selalu dalam keadaan bersih. Daun teratai memiliki kemampuan untuk membersihkan diri dari air dan kotoran yang menempel.
Berikut ini petikan artikel dari beberapa situs: tentang “ilmuwan-yang –telah-pecahkan-rahasia-terata”i.
Diperlukan kamera dengan kecepatan ultra tinggi, mikroskop super dan speaker audio untuk membuka rahasia teratai yang selalu kering. “Kita menghadapi masalah rumit, tetesan air yang jatuh di atas daun menggelinding dengan mudah, sedangkan kondensat yang tumbuh dari dalam sudut dan celah daun tetap lengket dan terperangkap, ” kata Jonathan Boreyko, mahasiswa pascasarjana di Universitas Duke Pratt School of Engineering (DUPSE) dalam studinya tentang teratai.
“Para ilmuwan dan insinyur telah lama bertanya bagaimana tetes air ini pada akhirnya ditolak dari daun,” kata Boreyko. “Setelah membawa daun teratai ke laboratorium dan mengawasi kondensasinya, kita dapat melihat bagaimana proses yang terjadi.” Kuncinya adalah rekaman video yang menampilkan proses istirahat daun teratai di atas woofer speaker stereo dalam frekuensi rendah.
Kondensasi diciptakan dengan mendinginkan daun. Setelah bulu lembut bergetar selama sepersekian detik, tetesan air secara bertahap terlepas dan lepas dari daun. “Ini memecahkan teka-teki yang sudah lama ada,” kata asisten profesor DUPSE, Chen Chuan-Hua. “Orang-orang telah mengamati berbagai bentuk kondensasi setiap malam pada daun teratai. Ketika mereka kembali keesokan pagi, air sudah hilang dan daun mengering. “
“Speaker yang direproduksi di laboratorium sama seperti yang terjadi setiap hari di alam, yang penuh getaran-getaran halus, terutama bagi teratai yang memiliki daun besar panjang dan ramping diatas batang,” kata Chen, menurut rilis DUPSE. Hasil dari eksperimen ini akan memungkinkan para insinyur untuk menggunakan permukaan buatan yang memerlukan penghapusan kondensasi serta transfer panas.
Makna teratai dalam spiritualitas
Bunga teratai sering digunakan sebagai simbolkan ketidakterikatan. Berikut ini adalah petikan dari buku *Bhagavad Gita.
Bhagavad Gita Bab 5 Sanyaas yoga ayat 6-12
Melepaskan diri dari keterikatan tidak mudah bagi mereka yang belum mendapatkan ketenangan jiwa. Sebaliknya ia yang telah mencapai ketenangan dan keseimbangan lewat meditasi dengan mudah dapat melepaskan dirinya dan mencapai Kesadaran Tertinggi. Ia yang telah mencapai ketenangan dan keseimbangan jiwa menyadari adanya persatuan antara “Aku” yang bersemayam dalam dirinya dan “Aku” yang bersemayam dalam diri setiap makhluk. Demikian, walaupun ia berkarya, ia tetap juga tidak terikat pada apa pun. Ia yang bijak menyadari bahwa yang terlibat dengan benda duniawi hanyalah panca inderanya. Sebenarnya “Ia” tidak terlibat. *1 Bhagavad Gita halaman 208

Bagaikan daun bunga teratai yang berada di atas air dan tidak dibasahi oleh air, begitu pula ia yang bekerja tanpa keterikatan dan menganggapnya sebagai persembahan, hidup tanpa noda dan tidak tercemari oleh dunia ini. Ia yang bijak melepaskan segala macam keterikatan dan bekerja dengan raga, pikiran, intelek serta panca inderanya, hanya untuk membersihkan dirinya. Ia yang bijak tidak mengharapkan sesuatu dari pekerjaannya, demikian ia memperoleh ketenangan jiwa. Sebaliknya ia yang tidak bijak selalu mengharapkan hasil akhir dari apa yang ia lakukan, sehingga tetap saja terikat. *1 Bhagavad Gita halaman 209
Kemudian teratai juga digunakan sebagai simbol perbuatan mulia di lingkungan penuh kekotoran. Berikut ini adalah terjemahan bebas dari buku *2 the Hanuman Factor halaman 22-24
Teratai ditemukan dalam kolam berlumpur. Mereka tidak hidup dalam kolam yang airnya bersih. Walaupun demikian, dasarnya yang berlumpur tidak mempengaruhinya. Mereka tidak menjadi kotor. Mereka tumbuh keluar dari lumpur. Mereka mencari pencerahan sinar matahari. Seharusnya demikianlah kita.
Kita tumbuh dan berkembang dalam lumpur dunia delusi dan kebodohan. Kita tak dapat melakukan sesuatu tentang hal ini. Semua elemen pembentuk tubuh kita ada dalam lumpur dunia. Akan tetapi lumpur juga menyediakan kita dengan bahan makanan untuk menjamin kehidupan.
Pelajaran pertama adalah bahwa jangan membiarkan dunia membuat kamu menjadi kacau. Pada waktu yang sama, jangan tetap berada dalam lumpur. Ingat selama kau hidup di dunia, sebagian dari kamu berada dalam lumpur dunia. Bagaimanapun terpisah dari lumpur kamu akan layu. Hidup dalam dunia yang gila akan tetapi tetap menjaga kewarasan dan memunculkan keindahan.
Pelajaran kedua adalah belajarlah dari kelopak bunga dan daun teratai. Mereka tidak basah. Tidak ada yang tersisa pada permukaan mereka. Baik air berlumpur maupun butiran embun tidak ada yang tersisa. Kamu harus melampaui dualitas, suka dan duka, bersih dan kotor serta menghadap matahari pencerahan. *2 the Hanuman Factor halaman 22-24

Keterikatan
Keterikatan membuat manusia takut menghadapi perubahan. Keterikatan membuat manusia ingin mempertahankan sesuatu yang pada dasarnya tidak abadi.
Keterikatan menimbulkan keinginan untuk memiliki dan mempertahankan sesuatu, keadaan maupun orang. Keinginan itu tidak selaras dengan alam. Alam tidak memiliki keinginan untuk mempertahankan sesuatu. Alam membiarkan terjadinya perubahan, bahkan malah memfasilitasinya, mendukungnya. Kita terikat dengan rambut lebat yang masih hitam, maka uban dan botak sudah pasti menyedihkan. Kita terikat dengan harta benda yang terkumpul selama hidup, maka kematian menjadi sulit. Sementara itu, alam tidak pernah  sedih karena pergantian musim. Alam tidak pernah menolak perubahan yang terjadi setiap saat. *3 Mawar Mistik halaman 45
Kenapa kita terikat pada sesuatu? Karena kita melihat sesuatu itu di luar diri kita, dan timbul keinginan untuk memilikinya. Pernahkah kita merasa terikat dengan ginjal, hati, dan jeroan kita? Kita tidak terikat, karena kita tahu semua itu ada dalam diri kita. Kita bahkan tidak pernah memikirkan mereka. Tidak pernah peduli tentang jantung dan paru, hingga pada suatu ketika kita jatuh sakit…. dan baru mengaduh-aduh. Karena saat itu kita “merasa kehilangan” kesehatan. Kita tidak pernah merasa terikat dengan sesuatu yang kita yakini sebagai milik kita. Sebab itu seorang suami bisa tidak terikat dengan istrinya, tetapi terikat dengan selirnya. *3 Mawar Mistik halaman 44
Shankara tidak mencela harta-benda. Yang dicela adalah keterikatan kita. Silakan cari uang; silakan menjadi kaya dan menikmati kekayan Anda, asal tidak terikat, karena keterikatan akan menyebabkan kekecewaan. Keterikatan merampas kebebasan Anda. Keterikatan memperbudak Anda. Tidak terikat berarti tidak habis-habisan, tidak mati-matian mengejar sesuatu. *4 Bhaja Govindam halaman 27
Keterikatan pada harta-kekayaan, pada kedudukan, pada keluarga semuanya harus dikikis sedikit demi sedikit. Tidak berarti kita menjadi asosial; tidak berarti kita meningkatkan keluarga. Tidak demikian. Yang penting adalah meninggalkan rasa kepemilikan. Yang penting ialah meninggalkan keterikatan. Dan untuk melepaskan keterikatan-keterikatan semacam itu, cara yang paling gampang adalah meningat kematian. Menyadari bahwasannya hidup ini bersifat fana, sementara, sesaat. *5 Al Fatihah halaman 68
Manusia perlu menarik diri sebelum sesuatu menjadi keterikatannya.
Pratyahaara – menarik diri, khususnya panca indera, dari pemicu-pemicu di luar yang dapat menghilangkan kesadaran diri. Ketertarikan adalah awal keterikatan. Jika salah satu dari panca indera kita tertarik pada sesuatu, terciptalah rantai keterikatan yang pada suatu ketika pasti menjerat kita. Pratyahaara berarti saat ketertarikan itu baru terjadi kita langsung menarik diri. *6 Sutasoma halaman 150
“Sepi ing pamrih rame ing gawe”, bekerja keras tanpa pamrih
Pamrih adalah tujuan, atau keterikatan dalam melakukan suatu tindakan. Para leluhur memberi nasehat agar kita bekerja keras tanpa keterikatan terhadap hasil atau keterikatan pada tujuan atau mempunyai pamrih tertentu.
Selama masih menggunakan pikiran anda tidak bisa bekerja tanpa pamrih. Selama masih belum kenal kasih, anda tidak bisa melepaskan ego. Dan selama pikiran masih bekerja, selama ego masih belum terlepaskan, anda tidak bisa melihat ke dalam diri. *7 ABC Kahlil Gibran halaman 92
Apa yang dimaksud dengan ketakterikatan? Dan, apa pula keterikatan itu? Keterikatan adalah ketergantungan dan kepercayaan kita pada pujian, pada imbalan, pada penghargaan dan pengakuan. Selama kita masih mengejar semuanya itu, kita masih terikat. Dan, selama kita masih terikat, kita masih takut. Lapisan Inteligensia kita memperoleh energi dari dua sumber utama, sumber dalam diri: dari rasa percaya diri yang tidak tergantung pada pujian dan makian orang dan sumber di luar diri: dari pujian dan pengakuan. *8 Fear Management halaman 90
Ketika pujian berubah menjadi hujatan, dan pengakuan menjadi penolakan, lapisan inteligensia kita kehausan energi. Saat itu menjadi ganas. Kita akan melakukan apa saja untuk memperoleh pujian dan pengakuan. Selama masih mengejar, kita masih terikat. Janganlah tergantung pada sumber energi di luar diri. Gunakan energi yang berasal dari dalam dirimu sendiri. Ketidaktergantungan pada sesuatu di luar diri inilah yang disebut ketidakterikatan. *8 Fear Management halaman 90
Para suci memberi nasehat agar kita tidak terikat pada sesuatu.
Asanga, Be Detached, janganlah Terikat pada Sesuatu. Asanga tidak berarti tanpa persahabatan, tapi tanpa keterikatan. Silahkan bersahabat, tapi tanpa keterikatan. Berkaryalah, tapi janganlah terikat pada hasilnya. Layanilah keluarga dan cintailah mereka, tapi tanpa keterikatan. Keterikatan bukan cinta. Keterikatan menciptakan keinginan untuk memiliki. Kemudian untuk memiliki sesuatu atau seseorang, kita akan melakukan apa saja, dengan membenarkan himsa atau kekerasan. *9 Life Workbook halaman 237
Dalam ilmu manajemen, dikenal pemahaman Management by Objective, seluruh upaya dilakukan agar hasil tercapai. Bagi mereka yang kurang ber-etika mereka menggunakan segala macam cara untuk memperoleh apa yang ia harapkan. Dalam spiritual, mereka berupaya sekuat tenaga untuk mencapai surga, nirvana atau apa pun tujuannya. Manajemen yang terikat kepada tujuan, manajemen berdasar pamrih.
Kemudian dalam ilmu manajemen dikenal pula Management by Process, apabila seluruh proses dilakukan dengan benar, hasil akhir adalah suatu kepastian. Seluruh upaya difokuskan pada tindakan saat ini, misalkan dengan pembuatan cheklist dari semua proses, sehingga apabila semua proses tersebut dijalani dengan benar maka hasil akhir sudah merupakan kepastian. Hasilnya adalah Total Quality Management, holistik. Dalam spiritual, mereka berfokus pada perjalanan dan bukan pada tujuan, tidak mempunyai pamrih.
Para leluhur kita mempunyai pitutur luhur, nasehat yang mulia agar kita melakukan “Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe”. Agar semua energi kita terfokus pada pekerjaan dan tidak terfokus pada hasil sehingga energi untuk bekerja kurang maksimal. Pendekatan para leluhur lebih mendekati “Management by Process”. Dalam hal spiritual, dapat dimaknai agar kita tidak terikat pada tujuan keduniawian atau tujuan atau pamrih apa pun. Dasarnya adalah bekerja sebagai persembahan pada kehidupan semata.
Bagi yang mempercayai hukum sebab-akibat, ada perbedaan antara takdir dan karma. Takdir mengungkapkan ketidak-berdayaan, bahwa individu dikendalikan oleh alam semesta yang kekal. Sebaliknya karma merupakan sebuah konsep yang memberdayakan. “Apa yang dilakukan akan berbalik kepada pelakunya”, “Apa yang kau tabur, itu pula yang akan kau tuai.” Apa yang kita kirim kepada alam semesta akan kembali kepada kita.
Tindakan buruk akan kembali kepada kita dan kita harus lahir lagi untuk menerima akibatnya. Sebaliknya tindakan baik pun membuat kita harus lahir lagi untuk memperoleh akibatnya. Belajar dari daun dan bunga teratai yang tidak menerima kebaikan atau keburukan, leluhur kita menganjurkan kita untuk bertindak sepenuh hati tanpa pamrih. Hal tersebut akan melepaskan kita dari ikatan duniawi.
Mungkinkah manusia hidup tanpa keterikatan?
Keberadaan selalu mendatangi kita setiap saat membawa beberapa pilihan yang dapat dikelompokkan dalam tindakan-tindakan yang memuliakan atau shreya dan tindakan-tindakan yang menyenangkan atau preya. Konon, manusia hanya bisa berusaha agar selalu memilih shreya dengan cara melatih intelegensianya. Sampai suatu saat dia mendapatkan rahmat dari Keberadaan untuk meningkat kesadarannya. Hanya seorang Master yang menguasai kehidupan. Seorang Master ibarat bunga teratai yang memberikan kebahagiaan kepada sekelilingnya. Kaki dia masih terikat pada lumpur keduniawian, tetapi dia tidak terikat dengan lumpur tersebut, dia muncul ke permukaan memberikan kebahagiaan.
Banyak orang meninggalkan keluarga dan menjadi petapa. Mereka mengaku tidak terikat lagi dengan keluarga, tetapi menciptakan keterikatan baru pada institusi yang mereka pimpin, pada orang-orang di sekitarnya yang dianggapnya sebagai “Murid”. *9 Life Workbook halaman 115
Tanpa keterikatan, seseorang tidak bisa hidup. Seorang yogi yang sudah melampaui segala macam keterikatan akan menciptakan ‘keterikatan baru’ yang bersifat ‘temporer’ untuk bisa bertahan hidup. ‘Mempersiapkan para murid’, ‘kedamaian dunia’, ‘menyebarkan pesan kasih’ merupakan beberapa ‘ikatan temporer’ yang biasanya diciptakan oleh para master. Namun, karena ikatan tersebut hasil ciptaannya sendiri, seorang Master mudah memutuskannya. Sebaliknya mereka yang belum memperoleh pencerahan tidak bisa, saya ulangi “tidak bisa menciptakan” ikatan-ikatan temporer seperti itu. Mereka tidak bisa berkarya tanpa pamrih, seperti seorang Master. *10 Paramhansa halaman 411
Melepaskan keterikatan berarti melepaskan rasa kepemilikan. Tuhan adalah Pemilik tunggal semuanya ini. Anda ada atau tidak, dunia ini akan tetap ada.
Selengkapnya...

Sabtu, 29 Oktober 2011

Kalimat yang Baik

Q.S.Ibrahim : 24


By Windi Hendriko
TKP  Depan Rumah
Weapon  : My Nikong
Selengkapnya...

Pohon Apakah Itu ???

Q.S. Al-Ghaasyiyah : 6


By  Windi Hendriko
TKP  Depan Rumah
Weapon : My Nikong
 


Selengkapnya...

Jumat, 21 Oktober 2011

H U J A N


                                    By         : Windi Hendriko
                                    TKP      : Depan Rumah
                                    Weapon : My Nikong

Percakapan Malam Hujan

hujan.....
yang mengenakan mantel,
sepatu panjang dan payung,
berdiri di samping tiang listrik.
Katanya kepada lampu jalan,
"Tutup matamu dan tidurlah, biar ku jaga malam"

"Kau hujan....
memang suka serba kelam,
serba gaib serba desah.
Asalmu dari laut, langit, dan bumi,
kembalilah.....,
jangan menggodaku tidur."


(Sapardi Djoko, Hujan Bulan Juni)
Selengkapnya...

Minggu, 14 Agustus 2011

Terjebak di Antara Macan dan Ular

Ada sebuah cerita kuno, menggambarkan mengenai bagaimana kira-kira respon kita dalam menghadapi krisis antara hidup dan mati.

Seorang lelaki berlari tunggang langgang dikejar oleh seekor macan di hutan. Macan dapat berlari lebih cepat daripada manusia, dan mereka juga makan manusia. Macan itu sedang lapar ; lelaki itu dalam kesulitan.



Ketika macan hampir saja berhasil menerkamnya, orang itu melihat sebuah sumur di pinggir jalan. Dalam keputusasaanya, tanpa pikir panjang dia melompat kedalam sumur itu. Segera saja ia sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan fatal. Sumur itu kering, dan didasarnya, dia melihat segulung besar ular hitam.

Secara naluriah dia menggapaikan lengannya untuk meraih tepi sumur, dan tangannya menemukan sebuah akar pohon yang mampu menahan laju kejatuhannya. Ketika dia telah merasa cukup tenang, dia melihat si ular hitam menjulurkan tubuhnya setinggi mungkin untuk mencoba menyerang kakinya, tetapi kakinya sejengkal lebih tinggi. Dia lalu mendongakkan kepala dan melihat si macan mencondongkan tubuhnya di bibir sumur untuk mencoba mencakarnya dari atas, tetapi tangannya sejengkal lebih jauh dari cakar si macan. Selama dia merenungkan keadaannya yang menggenaskan itu, dia melihat dua ekor tikus, yang satu hitam dan lainnya putih, muncul dari sebuah lubang kecil dan mulai mengerat akar pohon yang dipegangnya.

Selama si macan mencoba mencakarnya, kaki belakangnya berpijak pada sebuah pohon kecil di tepi sumur yang menyebabkan pohon itu bergoyang-goyang. Pada salah satu dahan pohon yang menjuntai dari atas sumur, terdapat sebuah sarang lebah, madu pun mulai menetes jatuh ke dalam sumur. Melihat tetesan madu, lelaki itu menjulurkan lidahnya untuk menangkap tetesan madu tersebut.


"Mmmm! Sedap sekali," dia berkata kepada dirinya sendiri dan tersenyum.



Kisah itu, sebagaimana diceritakan secara tradisi, berakhir sampai di situ saja. Itulah sebabnya kisah itu menjadi kisah sejati bagi kehidupan. Karena kehidupan, sebagaimana sinetron televisi yang bertele-tele, tidak punya akhir yang rapi. Kehidupan ini selamanya dalam proses penuntasan.

Lebih lanjut, sering dalam kehidupan ini kita bagaikan terjebak di antara macan lapar dan ular hitam, diantara kematian dan sesuatu yang lebih buruk, dengan siang dan malam (kedua tikus) mengunyah-ngunyah seutas tali kehidupan tempat kita bergantung. Bahkan dalam situasi yang menakutkan seperti itu, selalu ada saja madu yang menetes entah dari mana. Jika kita bijaksana, kita akan menjulurkan lidah untuk menikmati tetes-tetes madu itu. Mengapa tidak ? Ketika tak ada yang perlu dikerjakan, ya jangan ngapa-ngapain, nikmati aja tetes-tetes madu kehidupan.

Seperti yang saya katakan, secara tradisional kisah itu berakhir disini. Namun demikian, dalam rangka membuat sebuah kesimpulan, saya biasanya menceritakan akhir yang sebenarnya dari kisah itu. Inilah yang terjadi berikutnya.


Tatkala lelaki itu tengah menikmati tetesan madu, tikus-tikus terus menggerat akar pohon sehingga menjadi makin tipis saja. Si ular hitam pun terus menjulur-julurkan tubuhnya makin dekat dengan kaki si lelaki; sementara itu si macan terus mencondongkan tubuhnya lebih dalam lagi hingga cakarnya nyaris menjangkau tangan si lelaki. Lalu si macan dengan penuh semangat mencondongkan kembali tubuhnya lebih dalam lagi, tiba-tiba dia terjatuh ke dalam sumur, meluncur melewati lelaki itu dan menimpa si ular sampai mati; macan itu pun sekarat di dasar sumur.


Yah, itu bisa saja terjadi ! Dan sesuatu yang tak terduga biasanya terjadi. Begitulah kehidupan kita. Jadi mengapa menyia-nyiakan momen manisnya madu, bahkan bila kita berada dalam masalah yang benar-benar pelik sekalipun. Masa depan itu tak pasti, kita tak pernah tahu pasti apa yang akan terjadi kemudian.


Sumber : 
Brahm, Ajahn. 2004. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
Selengkapnya...

Jumat, 12 Agustus 2011

Cinta Sejati

Cinta sejati adalah cinta yang tak mementingkan diri sendiri. Kit hanya peduli kepada orang lain. Kita berkata kepada mereka, "Pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu, apapun yang kamu lakukan," dan kita bersungguh-sungguh dengan perkataan itu. Kita hanya ingin mereka bahagia.


Cinta sejati itu langka.



Banyak dari kita suka berpikir bahwa hubungan istimewa kita adalah cinta sejati, bukan cinta asmara. Berikut ini adalah sebuah tes untuk menilai cinta anda termasuk jenis yang mana.


Pikirkanlah pasangan anda. Bayangkan wajahnya di benak anda. Kenanglah hari anda bertemu dengannya dan saat-saat indah bersamanya. Sekarang bayangkan anda menerima sepucuk surat dari pasangan anda. Surat itu memberi tahu anda bahwa si dia telah jatuh hati kepada sahabat anda, dan mereka telah pergi untuk hidup bersama. Bagaimana perasaan anda ???


Jika cinta anda adalah cinta sejati, anda akan begitu tergetar bahwa pasangan anda telah menemukan orang yang lebih baik dari diri anda, dan dia bahkan sekarang lebih bahagia. Anda akan merasa gembira karena pasangan dan sahabat anda dapat berbagi hidup bersama-sama. Anda akan sangat gembira karena mereka saling mencintai. Bukankah kebahagiaan pasangan anda adalah hal yang terpenting dalam cinta sejati anda ???



Cinta sejati itu langka......









Sumber :
Brahm, Ajahn. 2004. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
Selengkapnya...

Rabu, 10 Agustus 2011

Renungan Ramadhan ~KH. Rahmat Abdullah~

Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran rendah dan semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum dari kawasan maksimum, angin pun berhembus.

Edaran yang pasti dari keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer, menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan. Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan. Ruh pun –dengan karakternya sebagai ciptaan ALLAH– menerobos kesulitan mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan grativasi “bumi jasad” memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala.

Kini –dibulan ini (Ramadlan)– ia begitu ringan, menjelajah langit ruhani. Carilah bulan diluar Ramadlan – saat orang dapat mengkhatamkan tilawah satu, dua, tiga sampai empat kali dalam sebulan. Carilah momentum saat orang berdiri lama dimalam hari, saat orang menyelesaikan sebelas atau dua puluh tiga rakaat. Carilah musim kebajikan saat orang begitu santainya melepaskan “ular harta” yang membelitnya.

Inilah momen yang membuka seluas-luasnya kesempatan ruh mengeksiskan dirinya dan mendekap erat-erat fitrah dan karakternya.
Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ shiyami
Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ al-qiyami.

Keqariban ditengah keghariban (pendekatan diri ditengah keterasingan).
Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang bersahaja, saat ia bertanya : “Ya Rasul ALLAH, dekatkah tuhan kita? Sehingga saya cukup berbisik saja atau jauhkah Ia sehingga saya harus berseru kepada-NYA?”

Sebagian kita telah begitu ‘canggih’ memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika beban-beban orang bertuhan telah mereka persetankan.

Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta disana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai. Betapa sengsaranya mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks, riba, suap, syahwat dan seterusnya, padahal mereka masih berpijak dibumi-NYA.

Betapa menyedihkan orang yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-NYA. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun berikutnya, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang seterusnya.

Semua ayat dari 183 – 187 surah Al Baqarah bicara secara tekstual tentang puasa. Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual, namun sulit mengeluarkannya dari inti hikmah puasa. “Dan apabila hamba-hambaku bertanya tentang Aku, maka katakanlah : sesungguhnya Aku ini dekat…( Al Baqarah : 185).

Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban (kedekatan) ini? Mereka jadi pandai tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik, padahal beberapa menit sebelum atau sesudah tampilan ini mereka menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang terjun langsung kebangkai-bangkai, menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera, tukang tiru yang rakus.

Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka? Bakar rumah, tebang pohon bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran antar warga atau anggota lembaga tinggi Negara, bisniskan hukum, atau jual bangsa kepada bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi kekosongan hati ini. Berapa lagi bayi lahir tanpa berstatus bapak yang syar’i? Berapa lagi rakyat yang menjadi keledai tunggangan para politisi bandit? Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati tetap membatu? Berapa banyak lagi kurban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak peduli?

Al Qur’an dulu baru yang lain

Bacalah Al-Qur’an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan perkaya wawasan dengan sirah, niscahya Islam itu terasa nikmat, harmoni, mudah, lapang dan serasi. Al-Qur’an membentuk frame berfikir. Al-Qur’an mainstream perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolak ukur keadilan, kewajaran, dan kesesuaian dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan pandangan parsial juz’i. penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh, aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan perselisihan dan menghemat energi umat.

Betapa da’wah Al-Qur’an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan tafhimnya telah membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan dijantung tempat kelahirannya sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad digaris depan, jauh sejak awal sejarah ini bermula. Bila Rasullah meminta orang menurunkan jenazah dimintanya yang paling banyak penguasaan Qur’annya. Bila menyusun komposisi pasukan, diletakannya pasukan yang lebih banyak hafalannya. Bahkan dimasa awal sekali ‘unjuk rasa’ pertama digelar dengan pertanyaan “Siapa yang berani membacakan surat Arrahman di ka’bah?” Dan Ibnu Mas’ud tampil dengan berani dan tak menyesal atau jera walaupun pingsan dipukul musyrikin kota Makkah.

Nuzul Qur’an di Hira, Nuzul Qur’an dihati.

Ketika pertama kali Al-Qur’an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk untuk seluruh manusia. Ia menjadi petunjuk sesungguhnya bagi mereka yang menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ia benar-benar berguna bagi kaum beriman dan menjadi kerugian bagi kaum yang zalim. Kelak saatnya orang menyalakan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu kehidupan jadi kacau. Ada juga orang berfikir malam qodar itu selesai sudah karena ALLAH menyatakan dengan anzalnahu ( kami telah menurunkannya) tanpa melihat tajam-tajam pada kata tanazzalu’l Malaikatu wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah para malaikat dan ruh), dengan kata kerja permanen.

Bila malam adalah malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya, fasiqnya dan shalihnya, munafiqnya dan shiddiqnya. Yahudi dan nasraninya? Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliput semua orang dikawasan?
Jadi ketika Ramadhan di gua Hira itu malamnya disebut malam qadar, saat turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa bahaginya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Al-Qur’an dihati pada malam qadarnya masing-masing, saat jiwa menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari sang Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama hayat dikandung badan, seperti badanpun tak dapat melampiaskan kesenangannya, karena selalu ada keterbatasan dalam setiap kesenangan. Batas makanan dan minuman yang lezat adalah keterbatasan perut dan segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya kegembiraan dipuncak kesenangan. Batas nikmatnya dunia ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambu: Stop!

Puasa: Da’wah, Tarbiyah, Jihad dan Disiplin.
Orang yang tertempa makan (sahur) disaat enaknya orang tertidur lelap atau berdiri lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadlan, setelah siangnya berlapar haus atau menahan semua pembantal lahir bathin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalah-masalah da’wah dan kehidupannya tanpa keluhan, keputusasaan atau kepanikan. Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan ditengah badai tak akan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air diakhir malam, lapar dan haus diterik siang.

Mereka biasa berburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai keakhirat negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi kepastian fajar menyingsing. Namun bagaimana mungkin bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu memahami ajarannya sendiri? “Fadiqu’s Syai’la Yu’thihi’ (yang tak punya apa-apa tak kan mampu memberi apa-apa).
Wahyu pertama turun dibulan Ramadlan, pertempuran dan mubadarah (inisiatif) awal di Badar juga di bulan Ramadlan dan Futuh (kemenangan) juga di bulan Ramadlan. Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadlan telah memproduk begitu banyak alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke maghrib zaman.

Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits, mulut mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu soal besar yang menunggu jawaban serius.
~KH. Rahmat Abdullah~
Selengkapnya...

Mensyukuri Kekurangan

Seusai sebuah acara pernikahan, sang ayah mertua memanggil menantu barunya ke pojok untuk memberinya nasihat tentang bagaimana agar pernikahannya awet dan bahagia. "Kamu mungkin sangat mencintai anak saya," katanya kepada si pemuda. "Ya, iya dooooong....," desah si pemuda.


Dan kamu mungkin berpikir dialah perempuan paling hebat di dunia," sambung si mertua.


"Dia begitu sempurna dalam segala hal," si menantu mengiyakan dengan nada kurang sabar.


"Itulah yang kamu rasakan sewaktu baru menikah," kata si mertua. "Namun setelah beberapa tahun, kamu akan mulai melihat kekurangan-kekurangan anak saya. Saat kamu mulai menyadarinya, saya ingin kamu ingat ini : jika dia tidak punya kekurangan-kekurangan itu, menantu ku, dia mungkin sudah menikah dengan orang lain yang jauh lebih baik dari kamu !"


Jadi, kita harus selalu bersyukur atas kekurangan-kekurangan pasangan kita, karena jika sedari awal mereka tidak memiliki kekurangan-kekurangan itu, mereka sudah akan menikah dengan orang lain yang jauh lebih baik daripada kita.
Selengkapnya...

Rabu, 22 Juni 2011

Memilih Hidup Sekali Lagi

Alkisah, Tuhan hampir setiap saat mendengar keluh kesah, ketidakpuasan, dan penderitaan dari manusia ataupun dari makhluk lain ciptaan-Nya. Kemudian, Tuhan ingin sekali tahu bagaimana jika semua makhluk tersebut diberi kesempatan memilih hidup sekali lagi; ingin menjadi apakah masing-masing dari mereka? Maka, Ia membagikan pertanyaan kepada semua makhluk ciptaan-Nya.


Tikus dengan cepat menjawab, "Jika diberi kesempatan memilih, aku ingin menjadi kucing. Enak ya jadi kucing, bisa bebas merdeka berada di dapur bahkan disediakan makanan, susu, dan dielus-elus oleh manusia."


Kucing pun dengan sigap menjawab, "Kalau bisa memilih, aku ingin jadi tikus. Kepandaian tikus mengelilingi lorong-lorong rumah bisa membuat orang serumah kewalahan. Tikus bisa mencuri makanan yang tidak bisa aku santap. Hebat sekali menjadi seekor tikus."


Saat pertanyaan yang sama disampaikan ke ayam, begini jawabnya, "Aku ingin menjadi seekor elang. Lihatlah elang di atas sana! Wah, ia tampak begitu perkasa mengepakkan sayapnya yang indah di angkasa luas, membuat semua makhluk iri dan ingin menjadi seperti dirinya. Tidak seperti diriku, setiap hari mengais makanan, terkurung dan tidak memiliki kebebasan sama sekali."


Sebaliknya, si elang segera menjawab, "Aku mau menjadi seekor ayam. Ayam tidak perlu bersusah payah terbang kesana-kemari untuk mencari mangsa. Setiap hari sudah disediakan makanan oleh petani, diberi suntikan untuk mencegah penyakit, dan ayam begitu terlindung di dalam kandang yang nyaman, bebas dari hujan dan panas."


Beda lagi jawaban yang diberikan oleh manusia. Si perempuan menjawab, "Saya ingin menjadi seorang laki-laki, kemudian menjadi pemimpin besar dan yang hebat! Menjadi perempuan sangatlah menderita. Harus bisa melayani, bertarung nyawa melahirkan anak, kemudian membesarkan mereka. Ini adalah pekerjaan yang sangat melelahkan."


Tapi laki-laki menjawab, "Aku mau jadi perempuan. Betapa indah rupanya dan halus budi bahasanya. Kelihatannya, ia selalu disayang, dilindungi dan dimanjakan. Selain itu, tidak ada pahlawan yang lahir tanpa seorang perempuan. Surga saja ada di telapak kaki ibu atau wanita."


Setelah mendengar semua jawaban para mahluk ciptaan-Nya, Tuhan pun memutuskan tidak memberi kesempatan untuk memilih lagi. Alias, setiap makhluk akan kembali menjadi makhluk yang sama.


Netter yang bijaksana,


Pepatah mengatakan, "Rumput tetangga selalu lebih hijau dibandingkan dengan rumput di kebun sendiri." Manusia selalu memikirkan kelebihan, kebahagiaan, dan kesuksesan orang lain sehingga mengabaikan apa yang sudah dimilikinya. Membandingkan diri dengan orang lain, secara terus-menerus, bisa membuat hidup kita menderita. Padahal orang yang kita pikirkan mungkin berpikir sebaliknya!


Mampu menerima dan bersyukur apa adanya atas apapun yang kita miliki adalah kebijaksanaan. Bisa ikut berbahagia melihatkebahagiaan dan kesuksesan orang lain adalah kekayaaan mental.


Be your self! Jadilah diri Anda sendiri! Mari mencintai apa yang kita miliki; maka hidup kita pasti akan penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Setuju?


Salam sukses luar biasa! 



sumber Selengkapnya...

Jumat, 08 April 2011

Kegagalan yang Sukses

        Ada kegagalan yang sukses dan ada kegagalan yang gagal. Kegagalan jenis pertama adalah syarat mutlak sebuah sukses, sementara kegagalan kedua adalah kekonyolan hidup. Jika yang pertama serupa humus bagi tanaman, yang kedua adalah karat bagi besi. Baik humus maupun karat berpusat pada satu sumber: perilaku. Ada perilaku yang menyuburkan, ada perilaku yang mematikan. Amat berbahaya jika kematian itu berlangsung pelan karena akan membuat korban tenteram di tengah bahaya. Ketika ia tersadar, semuanya sudah percuma. Itulah watak karat yang mengikis besi demikian intens dan pasti.

         Maka, marilah melihat jenis perilaku hidup apa saja yang membuat hidup berkarat itu. Saya akan melihat diri sendiri saja biar lebih mudah mencari contoh kasus. Misalnya, malu sekali saya jika mengingat segenap karat baik yang sudah saya lalui maupun yang masih saya lakukan hingga kini. Saat SMP saya pernah gagal menjadi bendahara arisan kelas, karena duit arisan itu ternyata cuma saya habiskan untuk jajan pelan tapi pasti.

         Saya memarahi habis-habisan diri sendiri atas perilaku ini. Tidak mudah karena bahkan untuk marah kepada diri sendiri, butuh usaha demikian keras. Jika cuma mengandalkan sanksi pihak lain rasanya tak banyak berarti. Semua jenis sanksi rasanya kecil saja di hadapan hati yang sedang gelap. Sanksi paling efektif ternyata harus bersumber dari kesadaran saya sendiri. Dan kesadaran pertama itu ternyata bukan rasa takut, tetapi rasa malu. Dan malu yang paling menggugah bukanlah malu pada pihak lain tetapi malu kepada diri sendiri.

        Saya ingat bagaimana mekanisme malu ini dimulai. Pertama saya disadarkan pada keterbatasan tampang saya sendiri. Walau tidak jelek-jelek amat, tampang saya lebih dekat ke jelek ketimbang ganteng. Di waktu kecil kejelekan itu malah terasa sekali. Bahkan tanpa harus berbuat aib dan salah pun saya sudah biasa grogi tampil dengan tampang pas-pasan ini. Lalu apa jadinya jika sudah tampang rusak, kelakuan ikut pula rusak? Pertanyaan ini tampaknya sederhana, tapi efeknya fundamental sekali. Pelan-pelan ada dorongan bahwa saya tidak ingin jelek dua kali. Jelek tampang, jelek laku. Saya tidak mungkin mengubah tampang, tapi saya pasti bisa mengubah perilaku.

         Membayangkan bahwa saya yang jelek adalah saya yang juga seorang penipu, sungguh menumbuhkan rasa malu yang pekat. Lalu apalagi yang tersisa dalam hidup saya ini jika seluruh nilai itu semuanya rusak. Rasa malu itu saya naikkan intensitasnya dari waktu ke waktu hingga di hari ini. Hasilnya, walau saya tidak bisa menarik kesalahan saya di masa lalu, setidaknya, rasa malu itu membuat saya sanggup meminta maaf di hari ini. Tapi yang terpenting, saya bisa mencegah agar kesalahan yang sama tidak lagi terjadi di hari ini.

        Manajemen malu semacam itu sungguh mengubah hidup dan perubahan ini rasanya tidak akan lahir kalau saya tidak pernah membuat aib itu. Jadi ada jenis kegagalan dan bahkan aib sekali pun yang dilahirkan sebetulnya cuma untuk membelokkan manusiake arah yang lebih baik. Jika Anda berhadapan jalan buntu, itulah kesempatan bagi Anda untuk berpikir tentang jalan baru. Itulah kegagalan yang sukses. Jadi kegagalan itu bukan cuma penting, tapi harus. Karena sifatnya yang "harus" inilah, sebuah kegagalan harus disambut dengan tenang dan kalau perlu layak disyukuri. Karena sekali lagi, jika seseorang menemukan jalan buntu, justru itulah saatnya ia harus menemukan jalan baru.

        Tapi pernahkah Anda melihat kegagalan yang cuma membuahkan kegagalan baru? Banyak sekali. Di tengah gempuran mal dan minimarket misalnya, jelas bahaya sedang mengepung aneka warung kelontong dari segenap penjuru. Untuk bertahan hidup saja, jelas mereka sudah membutuhkan usaha amat keras. Apalagi jika ia hendak bersaing dan maju. Ia pasti butuh memacu diri habis-habsian. Tetapi jangankan memacu diri, yang terjadi malah banyak sekali gerakan yang mempercepat kematiannya sendiri.

        Karena alasan tertentu, sebenarnya saya masih suka belanja di warung kelontong tak peduli betapa sederhana keadaan mereka. Tempatnya yang kusam dan lampu-lampunya yang muram. Tapi saya tegaskan, kepada mereka saya tak meminta banyak (karena itu tak mungkin), cukup asalmereka ramah kepada pembeli, itu saja. Tetapi betapa ada saja penjual yang bahkan keramahan saja tak punya, padahal itulah dagangan terakhir mereka. Jika bahkan peluru terakhir tak lagi dimilki, saya tak melihat ada kemungkinan lagi kecuali terpaksa membiarkannya mati. Itulah kegagalan yang gagal. Kegagalan yang tidak membelokkan arah tetapi sekadar mempertajam arahnya yang telah salah. Contoh yang lebih jelas ialah dengan cara membayangkan orang yang sedang ingin melunasi utang tetapi tidak dengan cara membayarnya melainkan cukup dengan mengeroyok penagihnya. Percayalah, utang orang ini pasti akan beranak-pinak begitu banyaknya, bahkan bersiap memasuki wilayah yang tak terduga.
Selengkapnya...

Selasa, 14 Desember 2010

Potret Landscape Bulan November

Kesalahan membawa nikmat 

 Potret malam PT.Semen Padang dari kejauhan

 Puncak Masjid Al-Marhamah
Kel. Limau Manis Selatan Kec. Pauh Kota Padang



Selengkapnya...

Rabu, 17 November 2010

Serba Perdana

 Foto ini asli jepret.
Lokasi : Pabrik Semen Padang - Sumbar


 Jepretan dengan penambahan filter violet.
Pemakaian perdana filter ni friend ! :)

 Jepret + Filter Violet
Lokasi : Dimana ya ???? (Lupa nama jalannya !)

Mencoba lighting dari samping.
Eksperimen perdana nih,
pencahayaan pun hanya mengandalkan sorot lampu jalanan.
Selengkapnya...

Minggu, 14 November 2010

Hati-hati dengan Status Facebook mu

Saat ini mobiilitas aktivis dakwah tak hanya memerlukan interaksi dengan ikhwan secara langsung saja (bartemu secara fisik maksudnya), tp mengharuskan bertemu dalam dunia maya juga. Apalagi kita aktivitis dakwah taraf Nasional (sok iye nech.. ^_^)  yang jarang sekali bisa bertemu secara langsung mengharuskan kita untuk berkomunikasi lewat dunia maya. Ada beberapa sarana yang saat ini memang banyak di butuhkan aktivitas dakwah dalam dunia maya ini,, diantaranya Hp, email maupun sarana chat yang sekarang sedang gila-gilanya… 

Bermula karena elektronik sekarang menjadi kebutuhan yang penting selain Hp, maka banyak sekali para pemakai sarana ini, apalagi jaman sekarang yang udah ga harus ke warnet lagi buat bisa internetan. Dengan mudah kita bisa internetan langsung dari Hp ataupun Laptop kita secara langsung soalnya kan dah banyak modem tuh,,, Kemudahan akses internet yang disediakan oleh berbagai provider membuat facebook menjadi lebih popular. Di Indonesia facebook merupakan situs yang tergolong banyak diminati, mungkin salah satunya karena facebook termasuk situs yang ‘bersih dan tertutup’. Artinya kita bisa menyeleksi siapa saja yang kita ijinkan masuk dalam daftar teman kita. Kata temanku yang penggemar sastra, facebook ibarat giant novel, dimana setiap penggunanya adalah karakter tersendiri dengan latar belakangnya yang berbeda-beda dan membangun kisah hidupnya sendiri pula. Mereka terhubung satu sama lain oleh hubungan saudara, teman, temannya teman, teman temannya teman, dst.

Pada halaman home, facebook menyediakan tempat untuk kita menulis apa yang sedang kita pikirkan, kemudian memberi kesempatan bagi teman-teman kita untuk mengomentarinya. Tadinya aku agak canggung dengan fasilitas ini. Apa yang kita tulis sedikit banyak akan menggambarkan bagaimana sosok kita sebenarnya. Aku merasa ruang ini menyerupai ruang untuk pembentukan karakter kita. Hmm… dijaman yang serba virtual ini, aku menemukan cara lain untuk mengenal orang yaitu melalui tulisan-tulisan pada kolom ‘what’s in your mind’ (Apa yang Anda pikirkan?), termasuk juga komentar-komentar yang menyertai status update tersebut, pada halaman home facebook.

Aku tertegun membaca note seorang teman “Ketika Iffah mulai luntur” (dibalik fenomena facebook). Sebuah note yang mengusik harga diri, moral etik dan kesantunan dalam komunikasi komunal. Wajah facebook semakin menampilkan mike up penggunanya yang tak terhingga.

Sebagai sebuah fenomena yang rata menggejala, facebook semakin bergeser dari sekedar alternatif jalinan komunikasi di dunia maya. Ada user yang begitu cerdas memanfaatkan statusnya untuk menyampaikan pesan yang bermanfaat. Menjadikannya sebagai alat penggerak solidaritas yang massif untuk menghimpun dukungan atas penderitaan orang lain. Ada yang mendisainnya sebagai link dakwah dan pesan Islam sebagai rahmatan lil alamin atau aktifitas lain dalam kerangka amar ma’ruf nahi munkar. Alhamdulillah, terhadap yang demikian ini, kita patut bersyukur dan mengapresiasinya dengan tulus.

Tapi ada pula user yang menjadikan statusnya sebagai curhatan dan wallnya bagai “tembok ratapan” atas apa yang dialaminya seharian begitu naif. Ada yang sekedar iseng mengumbar kata yang tidak jelas apa makna dibalik apa yang ia tulis. Yang lebih dari itu, ada pula facebooker yang memanfaatkan status pertemanan mayanya sebagai alat mengelabui orang lain. Bahkan ada yang sengaja memasang “jerat” untuk orang yang dibidiknya. Terhadap yang demikian, sangat terasa bahwa pertemanan di dunia maya hanyalah mendiskon waktu tanpa mendapatkan manfaat apa-apa selain kesenangan semu belaka. Bahkan bisa jadi, facebook tak ubahnya seperti menggali lubang ”sial” bagi penggunanya. Maka facebook, seperti sebilah pisau bermata dua. Bisa dibilang “STATUS FBMU…HARIMAUMU atau  bisa juga STATUS FB KAMU…HARGA DIRIMU”.

Bermula dari pembicaraan aku dengan beberapa teman ternyata dunia maya inipun bisa mencetuskan ikhtilat di antara para aktivis dakwah, maka aku berfikir dan ingin membuat diskusi sharing tentang IKHTILAT DUNIA MAYA. Eits… Jangan tidur dulu yaah,,, aku mau mendongengkan sesuatu… (maksudnya ceritaiin deh, nanti kalo mendongeng bener-bener tidur lagi..!!!)

Sebut saja nama akhwat itu Melati. Seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia ini memenangkan award di angkatannya sebagai “TER-jaga”. Predikat itu memang wajar saja disandangnya. Hijab yang membalut tubuhnya dengan rapi, kata-kata yang dilontarkannya begitu tertata, lakunya penuh kesopanan, pandangan matanya jauh dari kesan “jelalatan”, dan sikapnya yang tidak berlebihan.

Secara fisik, Melati terbilang menyejukan mata yang memandangnya. Setidaknya beberapa ikhwah sempat menjulukinya Melati DiSas alias Dian Sastro (walaupun agak dipaksakan n_n). Namun, dengan segala kelembutan yang dimilikinya itu, tidak berarti Melati memiliki kadar ketegasan yang minim . Itulah sebabnya, mantan Ketua Keputrian organisasi keislaman kampus ini menjadi inspirasi dan kantung curahan hati rekan-rekan muslimah yang lain. Hampir tak seorangpun laki-laki yang berani menggodanya. Jangankan untuk mengajaknya diskusi, untuk sekadar menegurnya saja tampak sangat segan. Terbukti dari berbagai pengakuan ikhwan-ikhwan rekan kerjanya yang gak berani macem-macem dengan akhwat yang satu ini. Dalam radius 10 meter, Melati dapat membuat para ikhwan tiba-tiba sok cool dan jaim.

Benarkah se-terjaga itu? Ternyata tidak juga. Setidaknya demikianlah yang diakui sendiri oleh Melati pada suatu ketika. Inbox message di facebooknya Melati didominasi dengan pesan dari teman-teman ikhwannya. Mulai dari rekan sejawat hingga “senior dakwah”. Mulai dari yang misterius sampai yang terang-terangan. Mulai dari urusan umat sampai urusan pribadi. Mulai dari yang satu kampus sampai di luar kampus. Mulai dari pembahasan yang berbobot sampai yang kopong. Mulai dari taushiyah sampai rayuan. Mulai dari tawaran untuk bekerja sama sampai tawaran untuk berumah tangga bersama! (what??? Ckckck..)

Melati bukanlah seorang yang terbilang popular dan menonjol. Entah bagaimana ikhwan-ikhwan tersebut mengenal -dalam arti sebenarnya- Melati. Sebagian dari mereka tidak Melati kenal dengan baik bahkan tidak kenal sama sekali. Tidak ada sangkaan sama sekali mereka ekspresif mengungkapkan perhatiannya di dunia maya. Maklumlah, jika di dunia nyata, mereka begitu mampu menjaga sikapnya. Perlakuan demikianlah yang akhirnya membuat Melati merasa bersalah karena merasa tidak mampu menjaga izzahnya dengan baik. Tidak ada asap kalau tak ada api, kan?

Sahabat, aku yakin pastinya begitu banyak Melati-Melati lain yang mengalami hal yang sama (hayo, ngaku??). ya… Walaupun mungkin tidak “semeriah” (he? Semeriah?? kaya pertunjukan besar aje^^) kisah nyata di atas. Sebagian dari para aktivis yang begitu menjaga image-nya seringkali menyembunyikan kenakalannya di balik perkembangan teknologi. Berbuat aji mumpung seolah tak seorang pun bisa tahu. Bersyukurlah Allah berkenan menutupi aib kejahiliyahan para aktivis yang seperti ini. Semoga kebarohan dakwahnya tidak ikutan luntur kerena hal tersebut.

Ada baiknya kita memperhatikan sebuah istilah menarik, yaitu Iktilat dunia maya. Ya… ini sih memang buat-buatan aja supaya kita lebih berhati-hati. Tapi tunggu sebentar, coba teruskan membaca tinjauan berikut ini. Ikhtilat menurut bahasa adalah bercampurnya sesuatu dengan sesuatu. (Lihat Lis?nul ?Arab 9/161-162). Adapun menurut istilah, ikhtilat adalah bercampur baur antara laki-laki dan perempuan yang tidak ada hubungan mahram pada suatu tempat. (Lihat Al-Mufashal f? Ahk?mil Mar’ah: 3/421).

Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. Cara demikian itu lebih baik bagi hatimu dan hati mereka.” (Al-Ahz?b: 53).

Ayat ini walaupun diturunkan kepada isteri-isteri Nabi shallallahu alaihi wa sallam- namun mencakup pula untuk semua umat Islam, karena telah tetap dalam qaidah Syar’iyyah: Letak pelajaran adalah pada keumuman lafazh bukan pada kekhususan sebab.


Sahabat, Sadarkah kita ketika sedang asyik sendiri berchatting atau kirim pesan inbox dengan “si dia” di hadapan layar dunia maya, sejatinya kita sedang menjalin hubungan “berduan” dengan komunikan kita. Hanya kamu dan dia yang tahu. Memang ini secara fisik terpisah dan mungkin tidak seekstrim “itu”. Tapi setidaknya, waspadai gejolak hati yang bermain. Yang menjadi controller adalah kita sendiri. Jadi, ketika keimanan dalam diri seseorang meredup, maka hal apa yang menjamin tidak ada apa-apa di antara keduanya?

Muroqobatullah (Merasakan pengawasan langsung dari Allah Azza wa Jalla) menjadi sebuah keniscayaan yang perlu selalu dipelihara setiap dari kita. Ingatlah, Sahabat, bahwa Allah selalu bersama kita dimana pun kita berada. Dia mengetahui setiap lintasan pikiran, setiap lirikan mata, dan setiap goresan rasa di hati kita. Jangan sampai Allah mendapati kita sedang bermaksiat dengan segala nikmat yang kita terima dariNya. Kecil atau besar, semuanya bukanlah perkara gratis tanpa pertanggungjawaban.

Astaghfirullah… 3x
Memang dunia dihiasi dengan hal-hal yang menarik hingga membuaikan para penikmatnya. Tak juga luput dikalangan aktivis dakwah. Butuh kebersamaan dalam usaha berbuat ma’ruf dan mencegah munkar. Karena syaitan senang pada orang-orang yang sendiri, itulah arti penting jama’ah.Semoga Allah menjaga kita di jama’ah dakwah ini.

Jejaring sosial itu cukup ada manfaatnya juga sich.. Tapi, mengapa waktu itu sampai ada isu bahwa MUI Jawa Timur akan mengeluarkan fatwa haram facebook? Banyak pro dan kontra yang terjadi, tapi bukan itu yang ingin aku bahas. Aku tidak ingin ikut-ikutan mengeluarkan fatwa, nanti akan lebih banyak protes..hihi (karena emang blom ada ilmunya ). Sedangkan menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Selatan (Kalsel) Prof H Asywadie Syukur Lc berpendapat, keberadaan Facebook (salah satu sarana komunikasi lewat dunia maya) bisa haram dan tidak. “Kita tidak bisa memfatwakan Facebook itu haram atau sebaliknya, kecuali melihat kontekstualnya,” kata alumnus Universitas Al Azhar Kairo Mesir itu.

Demikian sedikit berita tentang isu fatwa haram facebook, tapi lagi-lagi bukan itu inti yang ingin aku sampaikan. Yang aku fikirkan mendengar isu tersebut adalah “tentu ada sesuatu hal yang bisa menyebabkan penggunaan facebook menjadi haram”. Yah, minimal menimbulkan suatu mudhorat bagi diri sendiri atau orang lain.

Dunia maya seringkali membuat orang lupa untuk mengontrol ucapan dan tindakan mereka, membuat mereka jadi lebih berani, karena merasa tidak diperhatikan secara langsung, walaupun sebenarnya banyak yang memperhatikan. Aku teringat ceramahseorang ustadz, yang intinya kalau kita berbicara lewat telpon atau sms dengan lawan jenis yang disenangi, maka keberanian kita akan jauh meningkat dari pada berbicara langsung, kita jadi tak segan mengeluarkan kata-kata rayuan dan semacamnya. Oleh karena itu dalam hal ini berbicara lewat telpon lebih “berbahaya” dari bertemu langsung.

Beberapa potensial bahaya jejaring dunia maya antara lain ketagihan dan menghabiskan banyak waktu (melalaikan hati dari mengingat ALLAH), menjadi media penyebaran hal-hal berbau “haram”, kalau tidak hati-hati menulis status dan comment bisa menimbulkan prasangka buruk, fitnah, salah paham, dan sebagainya, karena yang membacanya banyak sekali dengan asumsi yang berbeda-beda. Facebook bisa juga menipu, misalnya foto atau profile yang ditampilkan tidak sesuai aslinya, sudah ingin melamar misalnya, setelah lihat aslinya eh kok beda ya?

Berteman pada dasarnya adalah naluri. Siapapun memiliki kecenderungan mencari teman, menerima teman dan ingin diterima dalam status pertemanan. Sebab sifatnya yang naluriah (fitrah) itu, Islam mengajarkan agar pertemanan hendaknya diikat dalam bingkai saling menghormati, menghargai dan masing-masing pihak menjaga kehormatan pribadi orang lain dalam jalinan pertemanannya. Bahkan sangat dianjurkan apabila memilih atau menerima teman diniatkan untuk menjalin silaturrahim dan persaudaraan. Inilah kerangka dasar pertemanan yang patut dikembangkan dan diindahkan.

Mungkin memang berteman di dunia maya menghadirkan sensasi tersendiri, tidak perlu mandi dan dandan untuk berteman (kita lagi ngapain juga orang lain tidak tahu ^^hihi), kita dapat merancang cerita tentang diri sendiri (politik pencitraan tea mereun), seseorang dapat membangun citranya di dunia maya, menjadi lebih relijius, lebih cantik dengan mempermak foto, menjadi suami/istri yang terlihat harmonis dengan foto2 mesra, menjadi orang tua yang terlihat berdedikasi dengan foto2 bareng anak-anak, atau menjadi lebih lembut, pengertian, menjadi apa saja yang bisa dirancang image-nya ^^ (Apakah setiap orang seperti itu? jawabnya tentu tidak, prasangka baik lebih utama didahulukan, mungkin cukup sebagai pengingat untuk diri sendiri  ^_^).

Rambu-rambu jalinan pertemanan yang sehat dan hanif sebenarnya sudah sangat jelas kita miliki dalam khazanah Islam; dien yang kita junjung kemuliaannya. Begitu juga dari sisi kejiwaan maupun nilai-nilai moral. Baik nilai-nilai moral yang berkembang di masyarakat (sosial), apatah lagi nilai-nilai Islam sebagai nilai yang paling luhur dalam pola hubungan antar individu seperti telah disinggung. Seyogyanya, seorang facebooker muslim atau muslimah harus setia menampilkan nilai-nilai Islami dan mengembangkannya setiap kali berinteraksi dengan teman di dinding facebooknya. Namun kesadaran demikian belumlah merata dipahami setiap kita. Banyak teman, banyak perhatian, mungkin itu daya tarik dunia maya, seolah-olah kita selalu ada, dan selalu ada orang lain bersama kita. Tetapi aku merasa di tengah hiruk pikuk onlen onlen, ada sesuatu yang mengganggu, keramaiannya sering tidak diinginkan, update disana sini, arrrgghhhh pusiiinnnngggggg.

Kalau misalnya, sedikit waktu luang online, tengah di perjalanan online, tengah menunggu online, tengah rapat online, tengah belajar online, tengah masak online, tengah ngasuh anak online, haduuhhh kumaha ieuh, kapan kontemplasinya, kapan inget Allah nya, kapan inget dosanya, kapan tobatnya

Mungkin sekarang perlu lebih banyak ruangan yang dahulu dipakai untuk tilawah, merenung, berpikir, shalat dengan khusyuk, juga ruangan-ruangan untuk bercengkrama dengan anak, obrolan dengan suami/istri, berkunjung, menengok tetangga. Singkatnya, agar eksis di dunia non maya (bukan berati dunai maya tidak ada manfaatnya). Tapi lagi-lagi sesuatu yang berlebihan/over dosis, bukan hasil yang baik yang dituai.

Mungkin, ada baiknya pula untuk saat ini aku masih mempertahankan henpon yang lama, tanpa koneksi internet, tanpa bisa cek email, cek facebookan, cekcok cekcokan, agar memang online hanya di depan laptop, jika tersambung internet di depan komputer. Selebihnya biarlah aku rasakan kemerdekaan dari hingar bingar online..online..dan..online…

Sebenarnya tidak ada yang salah dalam menjalin persahabatan di dunia maya semisal di facbook, karena pada prinsipnya silaturahim itu akan menambah rezeki dan memperpanjang usia. Dan manusiawi juga mengungkapkan kekecewaan, selama dilakukan dengan cara yang benar. Permasalahan timbul ketika facebook digunakan secara tidak bijaksana. Atau dengan kata lain, permasalahan akan timbul ketika kita lalai dalam menggunakan media dan fasilitas.

Kelalaian pertama adalah kelalaian terhadap waktu. Terbuktilah bahwa waktu luang adalah salah satu nikmat yang kerap disia-siakan. Padahal waktu begitu cepat berlalu dan tidak akan dapat kembali. Padahal kelalaian terhadap waktu adalah kelalaian terhadap kehidupan itu sendiri. Dan kelalaian terhadap waktu pastinya akan berdampak terhadap tidak terpenuhinya amanah waktu yang lain. Waktu untuk bekerja, belajar, beristirahat, beribadah dan sebagainya. Efeknyapun juga terasa mulai dari kian menumpuknya pekerjaan, pemborosan listrik dan dana hingga terisolir dari komunitas sosial.

Kelalaian selanjutnya adalah kelalaian terhadap bahaya lisan. Padahal sudah mafhum bahwa mulutmu adalah harimaumu. Betapa banyak orang yang celaka karena tergelincir lidahnya, pun tidak disengaja. Mulai dari canda yang tidak selayaknya hingga umpatan yang menyakitkan. Parahnya lagi, kata-kata yang terungkap adalah bukti tertulis yang tidak dapat hilang begitu saja. Dan ketika setiap kata dan aktifitas menjadi konsumsi publik, seketika itu pula sebagian aib kita akan terungkap.

 

Kelalaian yang tidak kalah berbahaya adalah kelalaian hati. Kelalaian hati dari mengingat Allah. Atau berbagai kelalaian yang mungkin timbul dari berbagai penyakit hati. Berbangga ketika status dan notenya banyak dikomentari. Ujub dengan status – status dahsyat yang menunjukkan berbagai kelebihan diri. Sombong dengan keelokan diri dan banyaknya kegiatan. Iri dan dengki hati terhadap teman yang (sepertinya) lebih beruntung. Atau takabur dengan data diri yang memang di atas kebanyakan orang.

Sebagai contoh beberapateman-teman fb-ku yang setatusnya berisi dengan kata-kata yang bagus mengandung makna dan hikmah, seakan ia terpedaya akan symbol yang bukan tidak mungkin dapat membuat kita celaka, itulah symbol jempol atau juga “like”, semakin banyak like semakin ia akan terpedaya. Terpedaya akan berbagai macam penyakit hati mulai dari ujub dsb. Jika ada yang nge”like” 20 orang, ia akan merasakan rasa yang teman-teman juga mengerti akan hal ini, karena aku yakin teman-teman pasti suka dengan symbol “suka” atau “like” ini.. dengan begitu ia akan membuat status dengan kata-kata yang sedemikian rupa, bisa berisi nasihat dsb. Tapi apakah merenungi, jika kita menulis begitu di status kita.. apakah kita seperti apa yang digambarkan seperti status yang dituliskan itu yang mungkin di “like” & dikomentari berpuluh-puluh teman kita??

Sudah berhasil dapat symbol “like” dari teman-temannya, ia pasti belum merasa puas, ia akan mencari-cari kata-kata yang sedemikian rupa itu.. entah itu di sebuah buku, Googling di internet, dsb. Dengan niatan agar mendapatkan symbol “like” lebih banyak dari status yang sudah-sudah. Tapi jika tidak mencerminkan diri kita juga dalam status-statusnya itu buat apa??

Bisa diambil kesimpulan hanya dengan kata “Apa yang Anda pikirkan?” atau ‘what’s in your mind?’ ini.. dapat membuat kita terbuai & terlena.. dan bukan tidak mungkin dapat menghinggapi penyakit hati, mulai dari sombong, ujub, riya, bahkan bisa juga munafik.. na’udzubillah…

‘Ujub adalah mengagumi diri sendiri, yaitu ketika kita merasa bahwa diri kita memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain.

Ibnul Mubarok pernah berkata, “Perasaan ‘ujub adalah ketika engkau merasa bahwa dirimu memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain.”

Imam Al Ghozali menuturkan, “Perasaan ‘ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Alloh.”

Memang setiap orang mempunyai kelebihan tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain, tetapi milik siapakah semua kelebihan itu ?
Allah berfirman :
“Bagi Alloh semua kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya.” (QS. Al Maidah : 120)

Ujub merupakan salah satu sifat  nafsu lawwamah yang sangat tercela dan membahayakan, Tidak ada obat yang tepat untuk menghilangkan sifat ujub melainkan dengan cara menggantinya dengan sifat tawadhu. Munculnya sifat ujub  diawali dari rasa heran terhadap diri sendiri, karena melihat dirinya lebih hebat dan istimewa dari yang lain. Dari ujub selanjutnya muncul sifat sombong, yakni dengan cara mengecilkan dan meremehkan orang lain.

Dan termasuk kelalaian adalah ketika ada berbagai pembenaran terhadap kelalaian yang sudah dilakukan. Memang faktanya begitu lah, untuk menyambung silaturahim lah, dan berbagai dalih lain yang jika dicari – cari memang tak akan ada habisnya. Mereka yang tidak punya facebook karena ingin memelihara diri jelas lebih baik daripada mereka yang kerap membenarkan berbagai penyalahgunaan dan berdalih atas berbagai kelalaian. Lebih baik dibilang kurang gaul tapi selamat dibandingkan dianggap sok gaul tapi bertabur dosa dan maksiat.

Seperti disampaikan salah seorang teman, facebook ibarat pisau yang manfaat atau mudharatnya tergantung penggunaannya, tulisan ini tidak hendak mengharamkan facebook yang memang tidak ada dalil jelas yang mengharamkannya. Namun, lebih mengingatkan untuk lebih bijaksana dalam menggunaannya, termasuk waspada terhadap berbagai potensi kelalaian yang ada didalamnya dan berbagai potensi pembenaran yang menyertainya.

Facebook tetap bisa menjadi sarana silaturahim, memperkaya jaringan yang akan berguna untuk masa depan hingga menjadi sarana penyebar kebaikan dan kebermanfaatan. Namun bagaimanapun, pisau adalah benda tajam yang berbahaya. Jika tidak perlu dan digunakan untuk hal yang bermanfaat, sepertinya lebih bijak untuk tidak menggunakannya.

Kalau masih ingin menggunakan jejaring sosial, maka kita wajib untuk lebih sadar dan hati-hati dalam menulis status, memberi comment, dan melakukan aktivitas lainnya,  sehingga tidak terjerumus ke dalam status fatwa “haram”. ^_^ itu bukan fatwa dari aku yah, tapi itu tergantumh teman-teman menyikapinya gimana.. ^^



Mari berlomba-lomba menjadi manusia yang lebih baik,,, aku sendiri masih belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Semoga kita selalu istiqomah di jalan Nya… Saling mengingatkan dalam kebajikan yaa akhi wa ukhti,,, Bagaimana dengan antum semua?? Setuju atau tidak?? Kalo tidak setuju juga tidak apa-apa ini hanya seklumit pendapat aku saja dan sekedar nasihat untuk teman-teman sekalian dan khususnya untuk diri aku pribadi…
Selengkapnya...

Selasa, 09 November 2010

Sunpak Filter CPL


*** SUNPAK FILTER CIRCULAR POLARIZING (CPL), MADE IN JAPAN (Single Coating) ***

Filter CPL merupakan filter unik yang banyak digunakan untuk pemotretan landscape, berfungsi untuk meminimisasi terjadinya refleksi seperti menguatkan detail awan dilangit, membuat warna biru langit tampak lebih biru, dan juga dapat menghilangkan pantulan warna biru langit di air laut sehingga tampak lebih natural. Selain itu juga dapat mengurangi bayangan/refleksi di kaca ataupun pantulan di genangan air.

================
HARGA SUNPAK - CPL
================
- 49 mm @Rp. 200,000
- 52 mm @Rp. 210,000
- 55 mm @Rp. 240,000
- 58 mm @Rp. 250,000
- 62 mm @Rp. 270,000
- 67 mm @Rp. 330,000
- 72 mm @Rp. 390,000
- 77 mm @Rp. 470,000
- 82 mm @Rp. 550,000

Persediaan terbatas, untuk ordernya silahkan sms ke 0852-7439-8989 dengan mengirimkan data nama barang yg dipesan, jumlah unit yg dipesan, nama lengkap, alamat lengkap untuk pengirimannya. Terima kasih.


Salam,

riko-art
HP: 0852-7439-8989
Selengkapnya...

Senin, 08 November 2010

Riding Backpack

Tas Kamera + laPTOP 14inch “ZANO“

Tipe : Riding

REady stock


Warna biru : 10pcs
Warna hitam : 10pcs
Warna Abu-abu : 10pcs

Harga : Rp 350.000,- exclude ongkir


Di design untuk para pengendara motor..
bentuk nggak terlalu besar, ada tempat untuk membawa helm kesayangan.. daripada di tenteng/ilang kalau di tinggal di motor saat kita asik motret. ad tempat untuk laptop maksimal 12inch & resleting tempat kamera di belakang atau nempel di punggung (bukaan belakang).

Bahan berkualitas:

+ Bahan luar NILON waterproof
+ Bahan dalam Semacam bludru
+ Busa tebel
+ Include Raincoat parasut
+ ada tempat laptop max 14inch
+ tempat tripot di samping (nyaman untuk pengendara motor)
+ ada tempat untuk helm kesayangan… biar nggak ilang :D
+ resleting tempat kamera di belakang

DIMENSI
- Dimensi – Bagian Luar : (T)40cm x (P) 30cm x (L) 15 cm


pemesanan cepat langsung via sms 085274398989 / 089617572767 aja
ketik nama+alamat+Riding+Warna

 

       


                                 


Selengkapnya...

Sabtu, 06 November 2010

Kisah Tawon dan Elang

    Di pagi yang cerah, di antara rindangnya pepohonan, tampak seekor burung elang sedang bermalas-malasan beristirahat di dahan sebatang pohon. Selama beberapa hari burung elang berulang kali hinggap di dahan pohon yang sama karena tertarik mengamati kegiatan segerombolan tawon (lebah) yang terlihat sibuk bekerja bersama-sama membuat sarang yang berjuntai di dahan sebatang pohon. 
    Tampak seekor tawon sebentar terbang hinggap di antara bunga-bunga hutan yang mekar, mengisap sari madu, dan terbang kembali ke dahan memberikan sari madu ke sarangnya, dan begitu seterusnya. Burung elang dengan tidak sabar menegur seekor tawon yang sedang terbang di dekatnya, "Hai tawon kecil, kamu sibuk terbang dari satu bunga ke tempat sarangmu, memangnya apa yang sedang kamu kerjakan?"
Tawon pun menjawab: "Aku dan kawan-kawan sedang membuat sarang."
"Untuk apa kalian repot membuat sarang sebesar itu? Umur tawon kan sangat pendek. Sudahlah...,tidak perlu susah-susah bekerja! Santai-santai saja dan nikmati kehidupanmu yang singkat itu."Demikian burung elang menasihati si tawon. 


"Umurku memang tidak sepanjang umurmu burung elang. Tapi justru karena pendeknya waktu yang aku punya, aku tidak boleh menyia-nyiakan nya. Aku harus bekerja giat dan lebih rajin agar sarang kami bisa selesai sesingkat umur kami," jawab tawon. 


"Untuk apa sarangmu harus diselesaikan cepat-cepat, toh kamu akan segera mati," elang menanggapi dengan cepat. "Maka, kamu pun tidak bisa menikmati sarang yang telah dibuat dengan susah payah," 


"Hahaha, tuan elang yang gagah dan berumur panjang, kasihan sekali caramu berpikir. Justru umur kami yang singkat inilah yang harus kami hargai dengan sungguh-sungguh. Kami memang makhluk kecil dan berumur pendek tetapi kami bangga dan bahagia karena bisa berarti bagi makhluk lain yaitu dengan memberi semua hasil kerja keras yang telah dilakukan seumur hidup kami. Itulah arti keberadaan kami," pungkas tawon kecil sambil terbang berlalu. 


Mendengar ucapan tawon kecil, si burung elang terdiam. Ia tidak mampu berkata-kata lagi dan bersombong diri. Ternyata di balik penampilan makhluk yang kecil dan berumur pendek, kehidupan mereka pun memiliki arti tersendiri. 


Netter yang luar biasa,
Seberapa pun panjang dan pendeknya sebuah kehidupan, itu adalah misteri alam yang maha kuasa.Sebagai manusia, kita tidak pernah tahu kapan waktu kita akan berakhir. Tetapi jika di setiap penggal waktu yang kita punya, kita punya dedikasi untukmelakukan yang terbaik serta mampu bertanggung jawab atas kehidupan kita sendiri, apalagijuga bermanfaat bagi orang lain, niscaya tiap tiap hari yang kita jalani adalah hari yangpenuh gairah , gembira, optimis, produktif, dan dinamis!
SalamSuksesLuarBiasa!!!

 -Andrie Wongso-
Selengkapnya...